Rumah Parsaktian atau Rumah Bolon

Ruma Parsaktian Nababan 


Sebelumnya saya mohon Maaf apabila saya yang Masih Naposo ini di nilai lancang atau Pamalomalohon.
Ruma Parsaktian Nababan, dengernya agak gimana gitu yaa 😀 Rada Kontroversi. Heheheee….….

Pasalnya menurut saya pribadi agak kurang sreg jika dinamakan “Ruma Parsaktian” karena ada beberapa alasan yang mungkin nanti bisa saya kemukakan di tulisan selanjutnya. 

Tapi jika memang sudah terlanjur menyebutnya dengan Ruma Parsaktian, itu sah – sah saja. Mungkin dikarenakan Rumah Bolon tersebut masih eksis dan suka menjadi tempat persinggahan Marga Nababan yang pergi berjiarah ke Tambak Op. Domi Raja atau ada juga yang menyebutnya Tambak Singa. 

Tapi saya mending menyebutnya dengan Ruma Bolon saja yaa 😊 . 

Berlokasi di Huta Banjar Dolok – Desa Tipang, Kecamatan Bakti Raja, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas). 

Jaraknya jika dari Dolok Sanggul (Siallang Hoda 😂 ) sekitar 20 KM.
Jika diperkirakan Ruma Bolon ini sudah berusia 450 Tahun, hampir Empat setengah Abad. Kondisi Rumah Tradisional, dengan Tiang Besar, didalamnya sangat luas dan tidak punya kamar tidur. Sebagai Rumah Tradisional Batak yang sudah tua ada sebuah tempat tidur Orang Batak yang berukuran besar namanya “SONDI” atau “HOMBUNG”.
Adapun Sejarah Rumah Bolon ini dibangun Oleh Keturunan Ompung Godang, yaitu Op. Sabar Dihuta dan Istrinya Boru Purba hingga keturunannya sampai turun menurun. Jadi dulunya Op. Sabar Dihuta punya 3 Putera yaitu : 

1. Op. Habinsaran, 

2. Op. Jaurung dan 

3. Op. Tolu.
Setelah menempati Rumah itu, Ompu Tolu punya 2 Orang Putera, yaitu : 1. Op. Appanibit dan 2. Op. Anggiat sebagai Pewaris Rumah tersebut. Selanjutnya Op. Anggiat mempunyai beberapa Putera yaitu : 

1. Wilater, 

2. Konstan, 

3. Oskar, 

4. Johan, 

5. Jisman (Ompu Andrian), 

6. Jupiter dan 

7. Herbert. 

Semua anak Op. Anggiat ini pergi merantau meninggalkan Tipang.
Setelah Op. Anggiat meninggal, rumah ini ditempati oleh salah satu anaknya yaitu Jisman (Op. Andrian) hingga terakhir yang menempati Ruma Bolon ini adalah Ama Rijal.


Namun disayangkan Runa Bolon ini sekarang sudah tinggal kenangan, karena tangal 4 April 2017 kemarin, Ruma Bolon tersebut habis dilalap Api, entah darimana datangnya apakah dari Tataring atau Korsleting Listrik. Yang jelas skarang masih diselidiki kepastiannya.
Tu Amang Rijal dohot Keluarga, sai di Pargogoi Tuhan ma Hamu atas Kejadian on. 


Semoga nanti bisa di Bangun kembali Rumah Parsaktian Marga Nababan. 
Nababan Bisa, dan Harus Bisa.

Iklan
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

PAMONA “DATU MANGAMBIT TUA NAI BORNGIN”

I. SILSILAH

Nama               : Datu Pamona

No. Sundut     : Sundut Ke 10 dari Borsak Mangatasi Nababan

Gelar               : Datu Mangambit Tua Nai Borngin

Ayah                : Op. Lobi Nagasaribu

Istri 1              : Si Tailan Br. Simanjuntak (Sitombuk)

Istri 2              : Boru Hutagaol

Anak                :  9 Putra dan 3 Putri

Putra ;

Dari Si Tailan Br. Simanjuntak :

1. Pulahat / Op. Lahat

2. Pumanat / Op. Manat

3. Pujojor / Op. Jojor

4. Marsahadat

5. Puramin / Op. Ramin (Tidak ada keturunannya)

6. Putumording / Op. Tumording

Dari Boru Hutagaol

7. Putuarus / Op. Tuarus

8. Purikkar / Op. Rikkar

9. Purhassing / Op. Harssing

Putri ;

1. Siboru Guguan

2. Pausaga, yang menikah dengan Raja Mardobur Sirait

3. Sanduluk

Silsilah Pamona “Datu Mangambit Tua Nai Borngin” dalam Tarombo Nababan :

PAMONA

II. Perjalanan Hidup Pamona

Berdasarkan keterangan cerita Orang tua terdahulu Op. Pamona adalah Anak pertama dari Ompu Lobi Nagasaribu, dalam kesehariannya Pamona adalah seorang Datu Nabolon atau Orang sakti Mandraguna, Op. Pamona juga Orang pertama yang membuka Perkampungan Marga Nababan di Hite Tano – Parsoburan dan yang menjalin Parpadanan dengan Marga Sitorus Pane.

Bagaimanakah kisah tersebut terjadi ? Peristiwa ini dimulai Pada suatu ketika tibalah saatnya Op. Lobi Nagasaribu akan menurunkan salah satu Ilmu Kanuragan Sebagai bekal menjadi Seorang Ulubalang kepada Pamona dan kedua Adiknya yaitu Raja BONA / TUMONAI dan Op. Tarugar dengan salah satu syarat mereka bertiga harus menculik anak kecil dari kampung lain untuk dijadikan bahan pangulu balang.

Dalam budaya masyarakat Batak Toba, pangulubalang mempunyai persamaan fungsi dengan ulubalang. Tugas ulubalang dan pangulubalang adalah sebagai panglima untuk melindungi dan memberi kesejahteraan kepada kampung atau marga. Mereka adalah pengayom huta, ladang, horja, dan bius. Selain itu mereka juga bertugas membela huta dari serangan musuh, ulubalang dari serangan fisik, pangulubalang dari serangan mistik.

Pangulubalang adalah benda berupa patung yang sudah diberi kekuatan mistis. Sedangkan Ulubalang adalah manusia yang mempunyai kendali atas Pangulubalang.

Hingga tiba saatnya Mereka berempat Op. Lobi dan ketiga anaknya Pamona, Raja Bona dan Tarugar mencari seorang anak untuk dijadikan bahan pembuat Pangulubalang. Namun sebelum menculik anak tersebut terlebih dahulu mereka berempat membuat suatu kesepakatan atau sumpah, ……………………………….

Dipublikasi di Uncategorized | 3 Komentar

MARGA NABABAN

I. Asal Usul Marga Nababan

Dalam silsilah masyarakat suku batak (dalam struktur tarombo) bahwa Marga Nababan adalah Generasi ke 7 (Tujuh) dari Si Raja Batak,

Tarombo Batak

Marga Nababan Generasi Pertama bergelar BORSAK MANGATASI yang dalam Silsilahnya Borsak Mangatasi adalah anak ke 3 (Tiga) dari Toga Sihombing.

Toga Sihombing

  1. Silaban, Begelar Borsak Junjungan
  2. Lumbantoruan, Bergelar Borsak Sirumonggur
  3. Nababan, Bergelar Borsak Mangatasi
  4. Hutasoit, Bergelar Borsak Bimbinan

Nababan merupakan salah satu marga dari suku Batak, diwarisi oleh semua yang bermarga Nababan, baik lelaki maupun wanita dari garis keturunan Bapak secara turun-temurun.

Marga Nababan diyakini berasal dari kata BABA=Mulut, “BABA, Na-Baba-An = si baba on” sibabaon artinya adalah harus si tuntun berbicara, harus di pandu dalam berbicara.

II. Tanah Kelahiran Marga Nababan

Marga Nababan Lahir di Tipang yang secara geografis berbatasan disebelah timur dengan danau Toba, sebelah selatan dengan Bakkara, sebelah barat dengan sisi terjal bukit arah Siria-ria dan sebelah utara dengan Janjiraja.

Pada awalnya Raja Sumba Menikah dengan Putri Raja Lontung yaitu “Siamak Pandan Nauli”, yang pada masa pengaruh Siraja Lontung nama Tipang awalnya adalah Siamak Pandan, sesuai dengan nama putri Siraja Lontung yang diperistri Siraja Sumba, induk dari marga Simamora dan Sihombing.

 Versi lain mengatakan bahwa Tipang adalah nama dari seseorang yang disebut “Duhut-Duhut Simardimpos dohot Tano Simarhilop” yang topografinya dibagi dua, yaitu Tano Birong yang ditempati oleh Simamora dan keturunannya dan Tano Liat yang ditempati oleh Sihombing dan keturunannya (Silaban, Lumbantoruan, Nababan dan Hutasoit).

Bukti Arkeologis Tipang adalah Bona Pasogit (Tanah Kelahiran) induk dari marga Simamora dan Sihombing adalah Batu Pauseang yang diterima oleh Raja Sumba dari Raja Lontung. Batu Pauseang ini berada di bagian belakang atau sebelah selatan dari huta ndari marga Hutasoit dan sebelah timur dari pusat keramaian Tipang.

III. Daerah Pemukiman Awal Penyebaran Marga Nababan.

Seiring bertambahnya Populasi didaerah Tipang dan menyebabkan lahan persawahan semakin berkurang maka beberapa Keturunan dari Toga Sihombing banyak yang berpindah ke daerah lain.

Oleh sebab itu, sebagian keturunan Toga Sihombing berimigrasi (pindah) ke dataran tinggi, atau disebut juga Humbang, Semula, keturunan Nababan  yang mendirikan kampung di Sipultak adalah Oppu Domi Raja, kemudian pindah  ke Balige, kemudian kembali lagi ke Sipultak,  Oppu Domi Raja mempunyai anak 2 orang, yaitu anak pertama  Sandar Nagodang ke Lumban Patik, anak ke dua Tuan Sirumonggur  ke Sitabotabo,  dari  daerah inilah secara bertahap keturunan Nababan berpencar di berbagai daerah dataran tinggi Humbang, yaitu:

  1. Nagasaribu, Lintongnihuta dan sekitarnya
  2. Butar Toruan (Lumbantongatonga, Paniaran dan Lumban Motung) sekitarnya
  3. Sitabotabo  dan sekitarnya
  4. Sipultak dan sekitarnya
  5. Hitetano, Tobasa.

Di dua daerah ini pertama bermukim keturunan Sandar Nagodang di Lumbantongatonga, Di Sitabotabo Tuan Sirumonggur.

Perlu juga diketahui tempat pemukiman ketiga marga keturunan Sihombing (Silaban, Lumbantoruan dan Hutasoit) di Humbang, yaitu:

  1. Silaban di Silabanrura,  Butar dan Sijamapolang Humbahas.
  2. Lumbantoruan  di Lintong Nihuta, Sipultak, Butar Dolok, Bahalbatu, Sibaragas  dan sekitarnya.
  3. Hutasoit di Silait-lait, HCB , Lintongnihuta, dan sekitarnya.

Untuk beberapa abad, persawahan dan pertanian di tempat pemukiman Nababan  masih terasa cukup. Akan tetapi, seiring dengan percepatan pertumbuhan keturunan Nababan yang cepat berlipat ganda, persawahan dan pertanian pun semakin terbatas. Sejak itulah keluarga-keluarga Nababan bermigrasi ke tempat lain. Pada masa Perang Kemerdekaan, perpindahan keluarga-keluarga Nababan  makin meningkat ke daerah Sidikalang Dairi, Kotacane, Aceh Tenggara, Desa Silangkitang Pahae Jae, Hitetano Porsea dan ke daerah lainnya di Nusantara. Secara bertahap hingga sekarang keluarga-keluarga Nababan (terlebih generasi mudanya) banyak yang pindah ke tempat lain, tersebar hingga ke kota-kota besar dan pulau-pulau lainnya di Indonesia.

Akibatnya sekarang, banyak kampung di Humbang, daerah asal Nababan, mayoritas penduduknya adalah orang-orang yang sudah tua. Banyak para pemuda meninggalkan kampung halamannya untuk sekolah atau untuk memperoleh hidup yang lebih baik.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Tarombo Justinus Nababan

TAROMBO LENGKAP

Dipublikasi di Uncategorized | 5 Komentar